Untuk Semua Sahabat yang Membutuhkan
Blog ini berawal dari permintaan seorang teman yang tinggal di Singapura. Dia mengaku kesulitan mencari informasi mengenai Banjarmasin. Karena kesulitan itu, dia pun memintaku untuk membuat sebuah blog yang bercerita tentang Banjarmasin. Mohon kritik dan saran jika terdapat kekurangan. Semoga bermanfaat
khairil@radarbanjarmasin.com
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jun 8, 2009
Souvenir dan Kaos Banjar...

SOUVENIR/ OLEH-OLEH DARI BANJARMASIN

Pakai Bahasa Banjar... :


AssalamuAssalamu'alaikum Wr Wb sabataan...
Umai rasa gambira banar nah ulun bisa manjumpai bubuhan pian sabarataan.
Hari ini, ulun handak bebagi infu haja manganai souvenir Banjar. Ulun ada membuka toko souvenir nang ngarannya toko "TAKURIHING". Alamatnya, di Jalan A Yani Km 24,500, di subarang Pasar Kamaratih - Makam Pahlawan & Syuhada Haji, Landasan Ulin. Nang dijual, souvenir-souvenir nangkaya gantungan kunci, galang-galang kayu, lawan banyak parnak-parnik lainnya. Tapi, nang labih khas atau fokusnya, adalah bajualan baju bamerek "TAKURIHING".
Gasan pian nang handak baelang, silakan haja baelang. Mun handak batutukar, maginnya ae ulun katuju...
Sampai batamuan barataan lah...
Wassalamu'alaikum Wr Wb...


Bahasa Indonesia...


AssalamuAssalamu'alaikum Wr Wb semuanya...
Rasa gambira sekali saya bisa menjumpai Anda semua.
Hari ini, saya ingin berbagi informasi mengenai souvenir atau oleh-oleh dari Banjar atau Banjarmasin.
Saya baru membuka toko souvenir saya berinama toko "TAKURIHING". Alamatnya, di Jalan A Yani Km 24,500, di subarang Pasar Kamaratih - Makam Pahlawan & Syuhada Haji Landasan Ulin. Yang dijual, souvenir-souvenir seperti gantungan kunci, gelang-gelang kayu, dan banyak pernak-pernik lainnya. Tapi, yang labih khas atau fokusnya, adalah berjualan baju/ kaos, sweater, dan jaket bamerek "TAKURIHING".
Kepada Anda yang ingin mampir, silakan mampir. Kalau ingin beli, saya tentu semakin senang

Sampai jumpa semuanya...

Wassalamu'alaikum Wr Wb...

Informasi lebih lanjut, hubungi ulun/ saya di 0813 4979 2082/ 0511 7455840

Desain lain bisa dilihat di web takurihingbanjar.blogspot.com



  

Posted at 10:02 am by banjarmasinkoe
Make a comment  

Jan 16, 2008
Apa Habarrrr...

Assalamu'alaikum Wr Wb...

Apa Habarrrr...barataan nah. Ampun maaf banar, napang kahauran banyak gawian, lalu kada sampat lagi ulun manulis gasan maiisi blog nangini...

Ayu ja nah, sahibar pangantar dahulu, mudah-mudahan ulun kawa maulah tulisan-tulisan lainnya lagi gasan disuguhakan ka hampiyan-hampiyan barataan...

Ui inggih, supaya kada katinggalan gaul jar urang tuh, ulun handak bahabar jua kalu ulun gen baisi friendster nang biasa disingkat if-is kah jar kakanakan Banjar tuh...haaa...haaa.... Mun hampiyan-hampiyan baisi if-is jua, tulung ae di add-akan if-is ulun. Emailnya (uma lah email haaa...haa... : ) : khairil@radarbanjarmasin.com.

Ayuha sudah, ulun hadangan add-an pian barataan lahh... Insya Allah ulun manulis pulang gasan maisi if-is nangini, han tasalah sudah nah, maksudnya blog nangini...  Du'a kan ulun sihat wal afiat lah, parajakian, wan lakas dapat bini...haaa..haaaa... (han lalakian, asa handak babini tarus...haa..ha...) 

sii yuuu nik tim laahhh....barataann

Wassalamu'alaikum Wr Wb...

Posted at 06:32 am by banjarmasinkoe
Comment (1)  

Sep 29, 2007
Ramadan di Banua Kita

Bubur Sabilal, Hemm…!

 

 

SELAMA Bulan Ramadan, ada satu menu spesial yang bisa dikatakan sudah menjadi ciri khas di masyarakat Kalsel. Ulun yakin, pian-pian nang ada di luar Banua, karindangan banar lawan nang sabuting ini.

Yup, apalagi lamunnya kada “Bubur Sabilal” nang dijadikan menu wajib buka puasa bersama di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Rasanya, sudah kada diragukan lagi. Nyaman banarrr…! Apalagi minumnya ada teh, kopi, bahkan susu. Jadi kada heran lamun setiap harinya, acara buka puasa bersama di masjid taganal di Kalimantan Selatan itu selalu hibak wan jamaah.

Mun pian panasaran, ayu lajui ka Sabilal, nang di Jakarta, di Surabaya, di Singapura, di Malaysia, and dimanapun berada, mumpung masih dalam suasana Ramadan, lajui bulikan ka banjar, kaina habiss…buburnya hueee… Salam hangat aja gasan dangsanak barataan dimana haja bagana… Selamat Bapuasaaa,,,(khairil@radarbanjarmasin.com_

 

 

Posted at 10:53 pm by banjarmasinkoe
Comment (1)  

May 25, 2007
Kesenian Kita

Tentang Musik Panting

"Farina, ini pesanan kamu, moga bermanfaat yaa... Insya Allah nanti dipublish lagi ttg kesenian Banjar lainnya..."

 

"Panting" = Petik

 

 

DALAM Bahasa Banjar, kata "Panting" mengandung banyak arti. Salah satunya adalah duri ikan yang mengandung racun. Namun, yang kita bicarakan disini bukan masalah duri ikan. Melainkan, tentang sebuah alat musik  yang diberinama alat musik "Panting". Dalam hal ini, "Panting" berarti petik. Yaitu, membunyikan senar dengan teknik sentilan.

Mengenai kapan lahirnya musik "Panting", sampai sekarang belum didapatkan data tertulis. Tapi, menurut tuturan lisan yang berkembang di pedesaan dan kampung-kampung di Kalimantan Selatan, musik "Panting" sudah ada sebelum zaman penjajahan. Atau lebih kurang pada abad ke-18. Pada masa itu, musik "Panting" digunakan untuk mengiringi tarian Japen dan Gandut.

Dalam periode tersebut, musik "Panting" diiringi dengan istrumen lain seperti babun, gong, suling, dan rebab. Tapi setelah biola masuk ke Kerajaan Banjar, maka kedudukan rebab digantikan oleh biola.

 

 

Di masa awal dan tahap perkembangannya, "Panting" hanya memiliki tiga buah tali.atau senar. Dimana masing-masing senar punya fungsi tersendiri. Tali pertama disebut pangalik. Yaitu tali yang dibunyikan untuk penyisip nyanyian atau melodi.

Tali kedua, disebut panggundah atau pangguda yang digunakan sebagai penyusun lagu atau paningkah. Sedang tali ketiga disebut agur yang berfungsi sebagai bass.

Tali "Panting" pada masa lalu dibuat dari haduk hanau (ijuk), serat nenas, serat kulit kayu bikat, benang mesin, atau benang sinali.

Tapi sekarang, karena lebih mudah didapatkan, ditambah lagi dengan bunyinya yang jauh lebih merdu, benang nilon tampak lebih banyak digunakan. Atau, ada pula yang menggunakan tali kawat dengan empat bentangan  pada badan "Panting".

Kemunduran musik "Panting" terjadi pada jaman penjajahan Jepang. Waktu itu, musik "Panting" jarang sekali dipergelarkan. Wajar saja, karena pada waktu itu, setiap orang harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup. Termasuk puluhan tahun setelah Jepang meninggalkan Indonesia.

Tahun 1984 merupakan tahun yang sangat menentukan bagi kehidupan musik "Panting". Ketika itu, para seniman melakukan penelitian terhadap musik ini di daerah Kabupaten Tapin.

Dari hasil penelitian, dinyatakan bahwa musik "Panting" masih layak untuk diangkat kembali ke permukaan. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Lagu-lagunya direnovasi dan diganti dengan lagu-lagu Banjar yang sudah diaransement ulang sedemikian rupa.

Setelah dibenahi secukupnya dengan tidak meninggalkan esensi sebagai suatu musik tradisi, di tahun 1984 itu juga, musik "Panting" diujicobakan ke festival musik daerah se-Indonesia.

Hasilnya sangat memuaskan sekaligus mengejutkan. Musik pantng berhasil menduduki peringkat 10 besar musik-musik Nusantara. Sejak saat itu, pembinaan terus ditingkatkan. Hingga pada akhirnya, lahirlah grup-grup musik "Panting" di seluruh penjuru Kalimantan Selatan seperti sekarang ini. Mari terus kita kembangkan dan lestarikan kesenian khas daerah kita. (ril/*)

 

Mitos seputar Musik Panting

 

Punya Daya Tarik Bila Diberi Azimat

 

Dentingan "Panting", keprakan "Babun", sayatan biola, tiupan suling, dan pukulan gong yang dimainkan bersamaan, menjadi sebuah harmonisasi musik yang sangat nikmat untuk didengarkan. Irama melayunya tanpa sadar membuat badan bergoyang.

Menurut kepercayaan masyarakat pembuat "Panting", "Panting" akan mempunyai daya tarik yang hebat apabila ia diberi azimat. Karena itu, pada masa lalu, pembuat "Panting" selalu memasukkan sesuatu ke dalam perut "Panting" sebelum "Panting" diselesaikan.

Azimat-azimat tersebut antara lain tambang lirang, yaitu semacam guna-guna. Menurut kepercayaan para pembuat "Panting", Tambang Lirang dapat membuat penggemar dan penonton jadi tergila-gila terhadap musik "Panting". Sehingga, mereka selalu ingin menontong pertunjukan musik "Panting". Tambang Lirang menumbuhkan kerinduan penonton terhadap bunyi yang didengarnya sangat merdu.

Azimat lainnya adalah Bunga Kenanga. Dalam hal ini, bunga kenanga dimaksudkan agar penonton menyukai musik "Panting" dan merasa rindu dendam manakala tidak mendengar "Panting" di sentil orang.

Selain itu, ada pula Sumbaga yang bertujuan agar penonton terpesona terhadap gelaran bunyi "Panting", serta tulisan tertentu yang bertujuan agar penonton terpukau mendengar bunyi "Panting".

Di kalangan Pemantingan dikenal pula adanya datu-datu pemelihara "Panting". Menurut kepercayaan, datu itu biasa memberikan bobot bunyi yang sangat merdu. Beberapa datu yang paling dikenal adalah Datu Lampai, Datu Bangkala, Datu Kalambahai, Datu Kundarai, Datu Ujung, dan Datu Lampai Sari yang merupakan satu-satunya datu perempuan.

Di masa dulu, jika "Panting" mau dimainkan di tengah banyak orang, terlebih dahulu di panggil datu-datu tersebut dengan cara membakar kemenyan dan meletakkan "Panting" di atas asap kemenyan tersebut.

Dalam hal bentuk, "Panting" mempunyai perbedaan-perbedaan. Karena adanya perbedaan tersebut, maka muncullah nama-nama "Panting". Beberapa nama yang sempat diinventarisir adalah Lalai Gajah, Putri Kurung, Putri Manjanguk, Mayang Bungkus atau Mayang Marakai, Sari Dewi, dan Si Runtuh Palatar.

Di antara sekian jenis tersebut, yang paling banyak digunakan adalah Lalai Gajah dan Putri Kurung. Sementara yang paling jarang adalah Mayang Marakai. Sebab, ada yang mengasumsikan bahwa apabila menggunakan "Panting" jenis tersebut, maka grup pemain bisa rakai atau terpecah belah.

Tapi terlepas dari unsur magis tersebut, alunan atau harmonisasi musik "Panting" memang enak untuk didengarkan dan dinikmati. (ril/*)

 

 

Salah Satu Lirik Lagu Musik Panting

"Lamunnya kada bisa manyanyi-akan, batakunai dulu lawan nang bisa...he...he..."

 

Alahai Sayang

Cipt. NN

 

Itam itam maritam buahnya manis 2x

Mulai bakambang luruh sakaki 2x

Ahai....alahai sayang 2x

Biar hirang lamunnya 'ku pandang manis 2x

Sakali 'ku pandang cucuk di hati 2x

Ahai.....alahai sayang 2x

Itam itam tampuknya tampuk palawi 2x

Batanglah kamuning luruh kambangnya 2x

Ahai.....alahai sayang 2x

Biar hirang panggawi tapi panggawi 2x

Awak putih kuning apa gunanya 2x

Ahai.....alahai sayang 2x

Anak lalat ya guring, guring bagantung 2x

anak-anak warik manyanyiakan 2x

Ahai.....alahai sayang 2x

Kada harat rupanya lamun bauntung 2x

Kalakuan baik lagi baiman 2x

Ahai.....alahai sayang 2x

Hura ahui ahui ahui hura ahui 2x

Banih ditambat daunnya cundai ala sayang 2x

Banih di tabing tangkainya karing 2x

Banih angkat ka dalam kindai 2x

Ambillah panting kita banyanyi 2x

Hura ahui ahui ahui hura ahui 2x

 

Posted at 07:33 pm by banjarmasinkoe
Comments (4)  

Nov 11, 2006
Seputar Kota

Twenty One Sapa Banjarmasin

"Ada Nang Ngoceh Tarus, Ada Jua Nang Salah Studio"

 

Banjarmasin wayahini kadatangan suguhan spesial. Inggih, Studio 21 alias Twenty One wayahini ada di Banjarmasin. Berikut sedikit kisah dari ulun.

 

NONTON film layar lebar di bioskop adalah kahandak ulun nang sudah lawas banar handak ulun wujudakan. Sayangnya, babarapa kali ulun ka luar kota, kahandak ulun itu kada jua tapanuhi.

Wayah ulun ka Samarinda, ulun kada sampat ke Twentyone-nya lantaran kabanyakan gawian. Limbah itu, wayah ulun ka Jakarta, ulun kada wani saurangan lantaran kadada nang mangawani. Terakhir, wayah ulun ka Pontianak, sakalinya ulun kahabisan tiket.

Oleh karennya, rahat Twenty One dibuka di Banjarmasin, Jumat, 9 Februari 2007 sumalam, ulun batekad handak langsung mandatanginya. Maklum, sampai umur ulun nang ka-20 wayah ini, ulun balum pernah ka bioskop.

Limbah sambahyang Jumat, ulun langsung siap-siap. Tantunya limbah malihat dengan saksama jadwal penayangan film di koran Radar Banjarmasin wadah ulun bagawi.

Dari kantor, sakira jam 13.50, ulun tulak ka Duta Mall (Mall hanyar di Banjarmasin wadah kaandakan Twenty One). Ulun marancakan diri handak nonton film horor Pocong II nang ditayangakan di Theater I jam 14.25 Wita.

Kadanya karana ulun katuju nang barbau misteri pang, tapi karana malam harinya, ulun wan kakawanan sudah barancana handak nonton film lain nangkaya Casino Royale wan Curse of the Golden Flower.

Sampai di lobi Twenty One, ulun langsung nukar tiket. Limbah itu, ulun diparsilakan masuk studio (theater) I wadah film ditayangkan. Maliwati lorong yang sedikit kadap, ulun lalu memasuki pintu yang ternyata di dalamnya banyak banar  panonton lain.

Rahat nukar tiket, ulun sangaja mamilih kursi di balakang. Karena, rancana ulun, di dalam studio ulun handak foto-foto gasan bahan liputan. Sakaligus, supaya ulun bisa memantau kaadaan. Akhirnya, ulun pilihlah kursi B-9.

Ulun duduk, tarnyata kursinya nyaman banar. Alhasil, nonton pun manjadi nikmat. Hanya saja, ulun kada ingat nukar camilan di luar. Untungnya, panonton lain nang duduk di higa kanan ulun babaik hati mambagi ulateh wan gulaan ka wadah ulun.   

Kada lawas, film diputar. Lampu dimati-i sampai ruangan jadi kadap banar. Hanya cahaya layar nang jadi panarangan di studio nang itu.

Sabagaimana film horor biasanya, banyak banar adegan-adegan nang membuat bulu kuduk marinding wan jantung badatak kancang. Terlebih, suara yang dikeluarkan dasar bujur manggalagar.

Banyak kajadian manarik nang ulun tamui. Rahat ulun lagi sarius-sariusnya manonton film, ada kejadian unik nang maulah ulun sadikit takekeh. Kayapa kada, rahat seperempat film sudah barjalan, ada penonton nang kabingungan mancari wadah duduk. Limbah dicek oleh bubuhannya nang batugas, sakalinya panonton tadi salah masuk studio.

"Ehmm...maaf Pak. Pian handak nonton Night Museum kalo?," ujar si Karyawati Twenty One manakuni si panonton limbah melihat tiket nang dipingkuti si penonton.

"Inggih Mba ae, ulun handak nonton film itu," sahut si panonton.

"Nah bapak, ini studio satu. Filmnya adalah film Pocong II. Lamun pian handak nonton Night Museum, di studio subalah pak ae, di studio II," ujar si karyawati manjalasakan.

"Oh studio II kah Mba?" sahut si panonton lagi.

"Inggih, pian salah studio," sambung si karyawati.

Kajadian lainnya adalah kabiasaan urang kita nang katuju banar  mangomentari film. Nangkaya nang kita katahui, urang kita katuju ngoceh mun nonton film. Jadi kada hiran, suasana pina gaduh diisi ocehan-ocehan nang itu. 

"Eh, tu pemain film Jomblo tu kalo. Kada cocok inya main film horor kaya ini. Muhanya lucu badahulu," ujar saurang panonton rahat melihat Ringgo Agus Rahman baparan sebagai pacarnya Maya di film Pocong II.

"Hi ih lah, kada cocok jua ai. Iya kalu," sahut panonton lain nang masih haja connect meski duduk bajauhan.

"Aii, gugulingnya kaya pocong liati," celoteh nang lain pulang rahat malihat guling nang bagian atasnya diikat kaya ikatan pocong.

"Awasss...hantunya di higa...," sambung panonton lain lagi maingatkan si Revalina S Temat nang berperan sebagai Maya, salah satu tokoh utama. Padahal, si Revalina-nya hanya di dalam film.

 

Yeach, kaya itu pang. Banyakai lagi ocehan-ocehan lainnya. Ulun kada mangarti jua apakah suasana bioskop-bioskop daerah lain atau bioskop-bioskop sepuluh tahun lalu dasar nang kaya itu. Pasti, suasana itulah nang ulun rasakan sumalam tuh.(khairil_anwar)

  

In Indonesia Language

 

Twenty One Sapa Banjarmasin

 

Ada Yang Ngoceh Melulu, Ada Pula Yang Salah Studio

 

Banjarmasin kini kedatangan sugugan Spesial. Ya, Studio 21 alias Twenty One kini ada di Banjarmasin. Berikut sedikit kisah dari saya.

 

 

MENYAKSIKAN film layar lebar di sebuah bioskop adalah sebuah keinginan yang sejak lama hendak saya wujudkan. Sayangnya, beberapa kali ke luar kota, keinginan tersebut tak kunjung tercapai.

Ketika melakukan liputan ke Samarinda, saya tak sempat ke Twenty One lantaran padatnya kegiatan. Kemudian, ketika saya ke Jakarta, saya tak berani karena tak ada yang menemani. Terakhir, ketika saya ke Pontianak, ternyata saya kehabisan tiket.

Oleh karenanya, ketika Twenty One dibuka di Banjarmasin, saya pun bertekad untuk langsung mengunjunginya. Maklum, hingga usia ke duapuluh sekarang ini, saya belum pernah masuk bioskop.

Selepas salat Jumat kemarin, saya langsung siap-siap. Tentunya, setelah saya menyimak kembali jadwal penayangan film yang diinformasikan di halaman 21 koran Radar Banjarmasin, tempat saya bekerja.

Dari Kantor Biro Radar Banjarmasin, sekira pukul 13.50 saya berangkat ke Duta Mall. Saya memplaningkan diri untuk nonton film horor Pocong II yang ditayangkan di Theater I pukul 14.25 Wita.

Bukan karena saya suka film yang berbau misteri, melainkan karena malam harinya, saya dan beberapa teman juga punya planing untuk menyaksikan film lainnya seperti Casino Royale dan Curse of the Golden Flower.

Tiba di lobi Twenty One, saya langsung beli tiket. Kemudian, saya dipersilakan untuk masuk studio (theater) I tempat film ditayangkan. Melewati lorong yang sedikit gelap, saya lalu memasuki sebuah pintu yang ternyata di dalamnya sudah cukup banyak penonton lain.

Ketika membeli tiket, saya sengaja memilih kursi di belakang. Karena, planing saya, di dalam studio saya juga ingin foto-foto sebagai bahan liputan. Sekaligus, agar saya bisa memantau keadaan. Akhirnya, saya pilihlah kursi B-9.

Saya duduk, ternyata kursinya cukup empuk. Alhasil, nonton pun menjadi nikmat. Hanya saja, saya lupa membeli cemilan di luar. Beruntung, seorang penonton yang duduk di samping kanan saya, berbaik hati membagi pop corn dan permen-nya kepada saya.   

Tak lama, film pun diputar. Lampu dipadamkan hingga ruangan menjadi gelap gulita. Hanya cahaya layar yang menjadi penerangan di studio tersebut.

Dan sebagaimana film horor kebiasaan, banyak sekali adegan-adegan yang membuat bulu kuduk merinding dan jantung berdetak kencang. Terlebih, suara yang dikeluarkan memang menggelegar.

Banyak hal menarik yang saya temui. Ketika saya sedang serius-seriusnya menonton film, ada kejadian unik yang membuat saya sedikit terkekeh. Betapa tidak, ketika seperempat film sudah berjalan, ada seorang penonton yang kebingungan mencari tempat duduk. Setelah dicek oleh karyawati yang bertugas, ternyata penonton tadi salah masuk studio.

"Ehmm...maaf bapak. Bapak ingin nonton Night Museum khan?" tanya seorang karyawati Twenty One setelah melihat tiket yang dipegang si penonton.

"Iya Mba, saya ingin nonton film itu," jawab si penonton.

"Nah bapak, ini studio satu. Filmnya adalah film Pocong II. Kalau bapak ingin Night Museum, di studio sebelah pak, di studio II," jelas si karyawati.

"Oh studio II ya Mba?" sahut si penonton lagi.

"Iya bapak. Bapak salah studio," sambung si karyawati.

Kejadian lainnya adalah kebiasaan orang kita yang senang mengomentari film. Yach, seperti kita ketahui, orang kita sukanya ngoceh melulu saat nonton film. Tak heran, suasana sedikit gaduh dengan ocehan-ocehan tersebut.  "Eh, tu pemain film Jomblo tu kalo. Kada cocok inya main film horor kaya ini. Muhanya lucu badahulu," kata seorang penonton ketika melihat Ringgo Agus Rahman yang berperan sebagai kekasihnya Maya di film Pocong II.

 "Hi ih lah, kada cocok jua ai. Iya kalu," timpal penonton lain yang tetap connect meski duduk berjauhan dengan penonton yang berujar pertama kali tadi.

"Aii, gugulingnya kaya pocong liati," celoteh seorang penonton ketika melihat sebuah guling yang bagian atasnya diikat seperti ikatan pocong.

"Awasss...hantunya di higa...," ucap penonton mengingatkan si Revalina S Temat yang berperan sebagai salah satu tokoh utama. Padahal, si Revalina-nya hanya  ada dalam film.

Yeach, begitulah. Saya tidak mengerti apakah suasana bioskop-bioskop daerah lain atau bioskop-bioskop sepuluh tahun lalu juga seperti itu. Yang pasti, suasana itulah yang saya rasakan kemarin. ***

 

"Kota Seribu Sungai"

KOTA Banjarmasin didirikan pada 1562 di sebuah kerajaan di Kalimantan Selatan dengan semboyan "Kayuh Baimbai".  Secara harfiah "Kayuh" berarti Dayung, sementara "Baimbai" berarti Bersama-sama.

Secara perlambangnya, semboyan Kayuh Baimbai mengandung makna bahwa warga Banjarmasin suka bekerja keras, selalu saling dan suka berkerja sama atau bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan.

Kota Banjarmasin sering pula dikenal dengan sebutan Kota Seribu Sungai. Hal itu wajar, karena di Kota Banjarmasin memang terdapat banyak sungai. Baik sungai besar, maupun sungai-sungai kecil.

Tak heran jika di Kota Banjarmasin, terdapat berbagai macam aktifitas sungai. Termasuk melakukan transaksi jual beli seperti di Pasar Terapung  yang menjadi pesona tersendiri bagi Kota Banjarmasin.

Kota Banjarmasin terletak pada posisi antara 32 derajat 16'32" - 32 derajat 22'43" Lintang Selatan  dan 114 derajat 32' - 114 derajat 38' Bujur Timur, dengan rata-rata 0,16 meter di bawah permukaan laut yang berada di bagian selatan Provinsi Kalimantan Selatan.

Perlu diketahui, Kota Banjarmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini memiliki luas sekitar 72 Km persegi. Atau sekitar 720.000 Hektare.

Kota Banjarmasin terdiri dari lima kecamatan dengan 50 kelurahan. Kecamatan pertama adalah Banjarmasin Utara yang terdiri dari sembilan kelurahan dengan berpusat di Kelurahan Surgimufti. Kecamatan kedua adalah Banjarmasin Selatan yang terdiri dari 11 Kelurahan dengan berpusat di Kelurahan Kelayan Barat. Ketiga adalah Kecamatan Banjarmasin Barat yang terdiri dari sembilan kelurahan dengan berpusat di Kelurahan Pelambuan.

Dua Kecamatan lainnya adalah Kecamatan Banjarmasin Timur yang terdiri dari semblian kelurahan dengan berpusat di kelurahan Kuripan. Dan, Kecamatan Banjarmasin  Tengah yang terdiri dari 12 Kelurahan dengan berpusat di Kelurahan Teluk Dalam. (sumber : buku olahan Pemprov Kalsel bertajuk 55 Tahun Kalimantan Selatan)

(rhiel.blogdrive.com)

(khairil@radarbanjarmasin.com)

 

Siring Sudirman

=========>

Semoga Selalu Terjaga

 

ALHAMDULILLAH, setelah cukup lama digenjot dan sempat berpolemik, siring tepian Sungai Martapura di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin akhirnya selesai juga.

 

Siring Sudirman, begitulah pemerintah Provinsi Kalsel menamai siring di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Banjarmasin yang diresmikan 21 Desember 2006 itu.

 

Selesainya Siring Sudirman ini membuat warna baru bagi Kota Banjarmasin. Kini warga atau masyarakat punya tempat tongkrongan baru. Yach, lumayan, sekedar melepas kepenatan sembari menyaksikan perahu-perahu air yang berlalu lalang. Serta merasakan hembusan angin yang segar. Dan menikmati deburan ombak sungai yang menentramkan jiwa.

 

 

Nongkrong di kawasan siring Insya Allah mampu membuat batin kita menjadi tenang. Taman-taman kecil dengan aneka tanaman hias dan bunga dipastikan membuat mata kita yang lelah bakal segar kembali (Insya Allah). Wah, pokoknya eunak tenan deh kalo nyantai di tempat yang satu ini.

 

Terlebih pada malam hari, lampu-lampu yang menghiasi sepanjang siring itu membuat pusat Kota Banjarmasin semakin indah. Tiangnya yang dibuat dari kayu ulin, menjadi kekhasan tersendiri yang menggambarkan sebuah arsitektur Banjar.

 

Yach, semoga apa yang sudah tercipta ini bisa bertahan maksimal. Semoga keindahan dan kenyamanan di kawasan siring ini terus-menerus terjaga hingga puluhan bahkan ratusan tahun mendatang.

 

Setidaknya, semua fasilitas yang ada di sekitar siring tidak rusak oleh tangan-tangan manusia yang sering jahil dan senang berbuat usil. Semoga kawasan ini tak menjadi sarang Pedagang Kaki Lima yang menjadi momok Walikota Banjarmasin. Besar harapan, nikmatnya bersantai di kawasan ini dapat dirasakan oleh anak cucu kita di kemudian hari kelak, tanpa ada kerusakan sedikit pun.

 

Bagi Anda atau kawan-kawan yang tinggal di Banjarmasin, yach cobalah sesekali tengok itu siring. Rasakan nikmatnya bersantai di kawasan tersebut.

 

Sementara bagi Anda atau kawan-kawan yang nggak tinggal di Banjarmasin, jangan lupa untuk mampir kalau suatu waktu ada kesempatan bertandang ke kota Seribu Sungai ini. (***)

 

 

 

Siring Sudirman

 

Lokasi         :   Sepanjang Jl Sudirman Banjarmasin

Panjang        :   320 Meter

Pelaksana      :   PT Wijaya Karya

Instansi       :   Kimpraswil Kalsel

Biaya          :   Rp 15.756.955.390

Sumber Dana    :   APBD Kalsel T.A

 

 

Posted at 09:24 am by banjarmasinkoe
Comment (1)  

Obyek-obyek Wisata

Kebanggan "Urang Banua"

MASJID Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin adalah masjid kebanggan masyarakat Kalsel, lebih khusus warga Banjarmasin. Masjid terbesar di Kalimantan Selatan ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman Banjarmasin, tak jauh dari Kantor Gubernur Kalsel.

 

Masjid ini didirikan di atas tanah seluas 100 ribu meter, di tempat bekas Komplek Asrama Tentara Tatas yang pada zaman kolonial Belanda  dikenal dengan sebutan Benteng Tatas.

Untuk diketahui, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin mulai dibangun pada 10 November 1974 hingga, Oktober 1979.

 

Nama "Sabilal Muhtadin" dipilih sebagai penghormatan kepada ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812 M) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan agama islam di Kalimantan Selatan (dahulu Kerajaan Banjar, red). Dimana, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah penulis kitab Sabilal Muhtadin.

 

Berdasarkan data yang tertulis di sebuah buku berjudul South Kalimantan (Borneo), disebutkan bahwa bangunan masjid terdiri atas bangunan utama dengan luas 5.250 meter dan lima bangunan menara. Satu dari lima menara itu memiliki tinggi 45 meter. Sementara lainnya, hanya 21 meter.

 

Salah satu kubah bangunan utama bergaris tengah 38 meter yang terbuat dari aluminium sheet kalcolour berwarna keemasan. Sekeliling masjid dihiasi kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al Qur'an dan Asmaul Husna yang terbuat dari bahan tembaga.

 

 

Demikian pula dengan pintu dan jendela yang dihiasi relief ukiran khas Banjar.  Namun, tentunya tidak untuk lantai dan dinding masjid. Karena, lantai dan dindingnya terbuat dari marmer.

 

Sebagai masjid terbesar, Masjid Raya Sabilal Muhtadin seringkali dijadikan sebagai pusat kegiatan keislaman. Hampir setiap harinya ada pengajian.

 

Namun, pengajian yang paling banyak didatangi jamaah adalah pengajian KH Ahmad Bakeri atau yang lebih akrab dipanggil Guru Bakeri setiap Jum'at malam, serta pengajian Guru Juhdi setiap Kamis malam.

 

Perlu diketahui, pada Ramadan 1426, 2005 lalu, Masjid Raya Sabilal Muhtadin dijadikan sebagai tempat pelaksanaan peringatan Nuzulul Qur'an yang dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin juga sering kedatangan dai-dai kondang. Seperti Ustadz Jefri Al Buchori, Ustadz Ariffin Ilham, Aa Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Haddad Alwi, dan banyak lagi. (khai_ril)

 

 

Pasar Terapung, Pasar yang Terapung

SUNGGUH nggak afdhol jika ke Banjarmasin nggak mampir ke Pasar Terapung. Ungkapan itu sering kali diucapkan tamu-tamu luar daerah yang bertandang ke Banjarmasin, yang memang asing dengan pasar yang terapung tersebut.

Jika berangkat dari pusat kota dengan menggunakan perahu mesin atau yang biasa disebut Klotok, diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk menuju pasar yang berada di aliran Sungai Barito tersebut.

Namun, jika dari pusat kota hingga kawasan Alalak menggunakan transportasi darat, maka tak memerlukan banyak waktu untuk sampai ke pasar tersebut. Biaya untuk sewa klotok pun tak begitu mahal. Karena, antara Alalak dengan lokasi Pasar Terapung tak begitu berjauhan. Kalau dari Alalak, klotok biasanya dicarter dengan harga Rp70 ribu (tergantung bisa tidaknya pencarter me-nego). Selain diajak menyusuri sepanjang pasar, pencarter pun bakal diajak berwisata ke Pulau Kembang (baca ulasan di tulisan berikutnya, red).

Pasar terapung ini sudah ada sejak lebih 400 tahun lalu. Dimana, penduduk dari pedalaman membawa hasil bumi atau hasil kerajinannya untuk dijual secara barter dengan barang dari penduduk pesisir dan pedagang-pedagang yang datang ke pasar tersebut. Namun, tentunya itu tradisi dulu. Sekarang, sudah nggak ada lagi yang namanya sistem barter di pasar tersebut.

Selain dilakukan di atas aliran sungai (perahu, red), kekhasan pasar ini adalah waktu transaksinya yang berkisar dari pukul 05.00 Wita hingga pukul 09.00 Wita. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi. Karena, setelah pukul 09.00 Wita tersebut, para pedagang akan berpencar, menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya ke penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.

Banyak yang diperjualbelikan. Mulai dari sayur-mayur, bahan kerajinan, buah-buahan, dan banyak yang lainnya. Bagi Anda yang hanya ingin bersantai, Anda pun bisa menikmati secangkir teh atau kopi, plus makanan/ kue khas Banjar, sembari menikmati goyangan ombak yang menerpa klotok yang Anda tumpangi.

Penasaran? Makanya, kalo ke Banjarmasin, jangan lupa ke Pasar Terapung ya...Karena, sebagaimana yang disebutin di atas, nggak afdhol banget gitu lhoh, kalo ke Banjarmasin nggak mampir ke pasar yang satu ini...he...he... (khairil/ sumber : Visitors Guide Book South Kalimantan 1991)

Pulau Kembang, Pulaunya Kelompok Kera

SEBAGAIMANA yang disinggung di atas, tak jauh dari Pasar Terapung, terdapat satu tempat wisata khas lain di Kota Banjarmasin ini. Tempat wisata yang dimaksud adalah Pulau Kembang yang dihuni ratusan bahkan ribuan kera.

 

Untuk menuju Pulau yang satu ini, Anda tak bisa menggunakan kendaraan darat. Karena, yang namanya pulau tentu di kelilingi oleh air. Oleh karenanya, untuk bisa mencapai pulau tersebut, Anda lagi-lagi harus menggunakan klotok.

Kalau dari Pasar Terapung, mungkin hanya memakan waktu 10 menit untuk sampai ke pulau tersebut. Sehingga tak jarang, kunjungan ke Pasar Terapung, selalu dirangkaikan dengan kunjungan ke Pulau Kembang.

Pulau Kembang merupakan hutan wisata dengan luas sekitar 60 hektar. Selain dihuni kera-kera yang akrab dengan manusia (meski terkadang ada juga yang tak bersahabat), jika Anda beruntung, maka Anda juga bisa menjumpai jenis kera khas Kalimantan Selatan, yakni Kera Bekantan, si pemalu berhidung mancung, dengan bulu badan berwarna pirang.

Sekadar diketahui, Pulau Kembang merupakan salah satu tempat favorit etnis Cina. Latar belakangnya adalah kepercayaan etnis tersebut yang apabila memberi banyak makanan kepada kera-kera di Pulau Kembang itu, maka orang yang bersangkutan bakal mendapatkan rejeki yang berlimpah.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke tempat yang satu ini, mohon diperhatikan hal-hal berikut :

1. Siapkan makan-makanan ringan seperti kacang kulit dan sebagainya untuk pakanan para kera.

2. Jangan membawa tas, atau sejenisnya. Karena, tas atau barang bawaan Anda bisa jadi direbut oleh sekelompok kera dan dibawanya kabur. Kendati demikian, bukan berarti Anda bisa menaruhnya sembarangan di dalam klotok. Karena, klotok juga bisa dinaiki para kera, hingga tas Anda juga akan "diobrak-abriknya". Jadi, taruhlah barang bawaan Anda di di tempat yang aman dan tersembunyi, yang tidak mudah dijangkau oleh kera-kera yang berseliweran.

3. Siapkan pula sejumlah uang (terserah uang kecil atau pun besar). Karena, di lokasi wisata tersebut cukup banyak peminta-minta. Jadi, itung-itung bersedekah sembari berwisata gitu lah...

Akhirnya, selamat bernostalgia dengan kera-kera he...he... Ingat-ingat teman seperjalanan Anda, karena, bisa saja tertukar dengan tuh kera...he...

(khairil/ sumber : Visitors Guide Book South Kalimantan 1991)

Museum Waja Sampai Kaputing

Arsitekturnya khas Banjar....

 

MUSEUM Wasaka (Waja Sampai Kaputing) terletak di Jalan Sultan Adam Komplek H Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14 Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara.

Museum ini terletak di tepian sungai, berdampingan dengan kokohnya sebuah jembatan yang panjang lagi besar, yang bernama Jembatan 17 Mei, atau lebih di kenal dengan Jembatan Banua Anyar.

Di museum yang diresmikan pada 10 November 1991 ini, terdapat kurang lebih 400 benda bersejarah di periode Perang Kemerdekaan.

Menurut salah seorang penjaga museum, sebetulnya banyak koleksi lain yang merupakan peninggalan Perang Banjar, Perintis Kemerdekaan, Perang Kemerdekaan, Pengisian Kemerdekaan, hingga periode Orde Baru.

Namun, karena tempat atau museumnya tidak memadai, terpaksa yang ditampilkan hanya koleksi benda-benda di periode Perang Kemerdekaan, sebagaimana yang disebutkan di atas tadi.

Beberapa benda yang bisa dilihat di museum ini antara lain berbagai jenis senjata yang digunakan pejuang Banjar di masa revolusi fisik tahun 1945-1949. Seperti tombak, mandau, senapan, dan mortir.

Hal lainnya, kita bisa melihat sebuah meja beserta empat buah kursi yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pejuang Kalsel untuk bermusyawarah.

Di sekitar kursi tersebut, tepatnya di dinding di sekeliling kursi, terdapat deretan foto gubernur, mulai dari gubernur yang paling pertama, hingga yang menjabat sekarang.

 

 

Kunjungan beberapa siswa di museum wasaka...

 

Di museum yang dibangun dengan arsitektur khas Banjar ini juga terdapat daftar organisasi yang pernah berjuang menentang pemerintahan penjajah seperti Lasykar Hasbullah yang bermarkas di Martapura, Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin, serta yang lainnya. Krmudian ada peta Kalimantan Selatan yang dilengkapi dengan bebera foto masyarakat adat di daerah masing-masing, struktur organisasi perjuangan gerilya Kalsel menuju Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI, serta benda-benda bersejarah lain seperti mesin tik kuno, kamera, cermin, dan sebagainya.

Tak ketinggalan sebuah sepeda kuno yang katanya sewaktu jaman penjajahan dulu, digunakan untuk mengirimkan surat dengan memasukkan lembaran surat tersebut ke dalam badan sepeda agar tidak ketahuan kolonial Belanda.

Ingin tahu bagaimana isi sesungguhnya. Silakan bertandang.  (khai_ril)

Posted at 09:24 am by banjarmasinkoe
Comments (4)  

Masakan dan Makanan

Makan...makan....

         Sementara, biarkan foto yang berbicara, Selamat menikmati....

Posted at 09:05 am by banjarmasinkoe
Make a comment  

Kerajinan

Sasirangan, Kain Pamintan...

  

AWAL mulanya, Kain Sasirangan merupakan kain yang dipercaya untuk kesembuhan orang-orang yang tertimpa penyakit. Di samping itu, kain khas Banjar ini pun merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Baik untuk rakyat, maupun keturunan bangsawannya.

Dahulu, kain sasirangan ini hanya dibentuk menjadi Laung (ikat kepala pria), Kakamban (serudung), Udat (Kemben) dan  sarung. Namun, pada perkembangannya, kini kain sasirangan sudah digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari pakaian jadi, sampai hiasan-hiasan dinding, payung, kipas, dan hiasan perabotan lainnya.

 

Motif kain sasirangan, pada dasarnya hampir serupa dengan kain Jumputan atau Teritik dari daerah Jawa. Hanya saja, sasirangan mampunyai motif tradisional dan ciri tersendiri.

Beberapa nama motif sasirangan antara lain motif Banawati, Tali Gapu, Bayam Raja, Kulat Kurikit, Kangkung Kaombakan, Ombak Sinapur Karang, Naga Mendung, Bintang Bahambur, Dara Manginang, Puteri Menangis, dan banyak lagi.

Untuk diketahui, motif-motif yang disebutkan diatas mempuanyai arti dan makna tersendiri. Sehingga, dalam pembuatannya, sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya. Oleh karena itu, orang Banjar sering kali menyebut Sasirangan sebagai kain Pamintan yang artinya permintaan. (khai_ril) 

    

Cara Membuat Sasirangan

 

Bahan-Bahan

 

  1. Kain Mori Putih (vualisima) yang mengandung katun 100%. Atau Kain Sutera 100%, atau Kain Primisima, atau Kain King, atau Kain Santung.
  2. Jarum dan Benang Sirang DMC
  3. Kertas Tebal (sejenis Karton) Pencil, Gunting, dll untuk membuat motif
  4. Meja Pewarnaan
  5. Mangkok Tempat Menghancur Warna
  6. Sarung Tangan
  7. Baskom Pencelupan Warna
  8. Kompor
  9. Panci

 

Cara Pengerjaan

 

Membuat Motif

-         Sebelum ke kain, terlebih dahulu kita buat motif yang kita inginkan di atas karton

-         Gunting motif yang ada di karton untuk dijadikan cetakan ketika kita hendak memotif di kain.

-         Letakkan  cetakan di atas kain, lalu turutilah lekuk-lekuk cetakan dengan garisan pensil untuk membuat motif di kain.

-         Kerjakan dengan rapi dan benar sesuai yang diinginkan

 

Pengerjaan di Kain

-         Setelah membuat garisan di kain, tugas selanjutnya adalah menjelujur semua garisan motif yang ada di kain dengan benang sirang yang kuat.

-         Selesai dijelujur, benang jelujuran ditarik seerat mungkin, hingga kain mengerut dan tak bisa dibuka. Ikat kuat-kuat. Perlu diingat, semakin kuat tarikan, semakin bagus. Karena, tarikan yang tak kuat, yang masih memungkinkan air masuk ke jelujuran yang ditarik, akan berdampak jelek dengan hasil akhir.

 

Pewarnaan

Tugas selanjutnya adalah melakukan pewarnaan pada kain yang sebelumnya berwarna putih.

-         Nyalakan kompor, lalu letakkan panci di atas kompor yang menyala tadi. Masukkan air dan zat warna secukupnya, panaskan hingga mendidih.

-         Angkat panci, matikan kompor, lalu tuangkan zat warna yang sudah dididihkan tadi ke baskom pencelupan warna.

-         Celupkan kain.

-         Pasang sarung tangan (agar warna tak lengket dan mengurangi panas di tangan), lalu remas-remas kain yang dicelupkan. Pastikan warna merata ke semua kain. Terus remas hingga air yang tadinya panas, berubah menjadi dingin. Dan kita benar-benar yakin bahwa zat warna sudah benar-benar meresap serta merata.

-         Angkat kain dari zat pewarna. Lalu tiriskan. Biarkan air masih ada di kain turun dengan sendirinya.

-         Setelah agak kering, lepas jelujuran yang sudah ditarik erat sebelum pencelupan ke zat warna tadi.

-         Hati-hatilah melepas jelujuran. Karena, ketidakhati-hatian bisa menyebabkan kesobekan pada kain.

-         Setelah semua jelujuran lepas, kibas-kibaskan kain, lalu jemur di tempat teduh. Penjemuran di tempat panas, mengakibatkan warna menjadi pudar.

-         Setrika, lalu siap dibentuk menjadi apa saja. (khai_ril)

 

Selamat membuat sasirangan…..

 

Posted at 08:55 am by banjarmasinkoe
Make a comment  

Hotel dan Transportasi

Tesss.....

Posted at 08:55 am by banjarmasinkoe
Make a comment